Wednesday, September 16, 2015

Baru aja kelar urusan tentang PPL (itu lho yang aku ceritain disini) yang ternyata menyisakan segudang cerita, eh udah mau nyambung ke kegiatan lain aja. Namun kali ini bukan kegiatan yang aku tunggu-tunggu. Apa itu? KKN, Kuliah Kerja Nyata. Semacam pengabdian ke masyarakat gitu, terjun langsung lah ke sebuah desa gitu. Bukankah itu akan menyenangkan? Seharusnya sih iya, sayangnya aku terlanjur berfikir yang tidak-tidak. Seperti kata orang yang… Pasti daerahnya terpencil deh, pasti sinyalnya susah deh, pasti mau ke fotocopyan aja harus jalan ber mil-mil deh. Terus apa lagi ya? Banyak lah pokoknya cerita dari teman-teman mahasiswa terdahulu tentang kegiatan ini. Mana kegiatan ini juga akan berlangsung lama banget pula. Belum aku yang tipe orangnya lama untuk beradaptasi baik lingkungan atau sosial. Kegiatan PPL yang berlangsung 3 bulan saja baru mau kerasa asiknya pas udah hampir selesai, nah bagaimana yang ini kan? Pusing deh… Hal-hal itu membuat jeda tiga hari ini memaksaku merencanakan sesuatu agar aku bisa menikmati kegiatan itu nantinya.

Akhirnya aku putuskan untuk menanamkan beberapa konsep KKN ku sendiri. Pertama, aku akan menganggap KKN ini sebagai liburan, anggap aja untuk mengistirahatkan otak yang bekerja penuh 3 bulan ini. Ke-dua, aku sudah ikhlas lahir batin untuk persoalan perutku disana nanti (Gue gak bisa makan pedes bro, padahal gue yakin banget kalau 99% pasti akan lauknya ada yang pedes). Ke-tiga, aku akan menjaga kontak seminimalis mungkin agar ketika waktunya kami berpisah maka tidak ada yang terlalu merasa berakhir (*ceileeeeh).

Tim KKN
Hafiz, Fajar, Tyas, Ulfa, Muji, Pak Tono (Pak Kadus), Miska, Yusniar, Heny, Gue

Tentang orang-orangnya? Kelompoknya kali ini hanya 9 orang, secara presentase gender agak mending sih dari kegiatan ppl yang lalu. Kali ini ada 2 teman cowok. (Drastis banget kan dengan kelompok ppl ku yang dari 20 orang hanya punya 1 teman cowok aja gue, haha). Ada si Hafiz pak ketuanya, lalu si Fajar temen konyolnya. Lalu para bidadari-bidadari dari berbagai jurusan ada Heni, Yusniar, Muji, Ulfa, Tyas, dan Miska temen sebelah kelasku. Berbagai macam karakter nih jadi satu, alhasil kadang adalah yang lari kesana-kesini, berpencar, ataupun saling tumbukan. Lhooh. Tapi overall semuanya asik, apalagi buat orang yang sehari-hari hidupnya sepi (baca: gue).

Posko KKN

Soal tempat tinggalnya atau yang populer dengan sebutan posko kkn, itu… asik binggo lah. Haha. Berbeda banget dari bayangan awal itu. Tempatnya gak pelosok kok, memang di dusun pedesaan gitu, tapi Alhamdulillah kami dapat posko di pinggir jalan raya, warung, pasar dan supermarket pun gak jauh amat. Jadi ya akses mau ngapa-ngapain enak. Air lancar, fasilitas oke banget (melihat posko kelompok lain sih). Ya, pokoknya bersyukur banget ditempatin kkn di lokasi ini. Cumaaan… ada cerita horrornya, but never mind lah, aku gak terlalu mikirin aja soal kaya gituan.

Oke, banyak sekali yang bisa aku ambil dari kegiatan ini. Diantaranya ada beberapa hal seperti kerja kelompok, cara berorganisasi, cara hidup berdampingan dengan orang lain, cara bermasyarakat, cara mengambil keputusan sebijak-bijaknya, sampai cara memasak. Hihihi. Btw, yang ingin aku bagi cerita juga disini adalah sebuah kegiatan yang membuatku sedikit berubah. Selama kegiatan kkn ini aku bisa menjadi terbiasa dengan anak-anak kecil. Ini sangat drastis sekali mengingat aku orangnya gak suka sama anak-anak. Beberapa minggu mengabdikan diri mendampingi kegiatan di POS PAUD, lalu berbaur dengan anak-anak SD menjadi guru les, kegiatan ngajar di sebuah TK pun aku ikuti.

Lalu ketika hal ini akan berakhir, ada salah seorang anak yang bilang kepadaku, “Mas sampean nanti kalau sudah pulang ke Semarang masih akan main kesini kan?...”

Bersambung...
Reactions:

3 comments: