Friday, February 20, 2015


Enakan dulu, ketika bbm'an pakai mig33.
Enakan dulu, ketika whatsapp'an pakai mXit.
Enakan dulu, ketika facebook'an pakai friendster.
Enakan dulu, ketika sms masih 350 rupiah tanpa bonus.
Enakan dulu, ketika internet'an hanya di warnet.

Sekarang ini semua komunikasi sudah dimudahkan dengan apa yang kita sebut teknologi. Evolusi handphone menjadi smartphone benar-benar telah mengubah gaya hidup masyarakatnya. Kita tidak perlu login lagi tiap kali ingin chating'an. Kita tidak perlu menambahkan nomer hp teman kita dulu sebelum kita mau ngobrol dengannya lewat instan messaging. Kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke warnet hanya untuk update status dan menengok suatu kabar di luar sana. Lalu kita tidak perlu memikirkan biaya sms, cukup berlangganan paket data lalu kita akan sedikit lupa dengan fitur pesan singkat di ponsel kita. Hanya saja semua itu membuat sebagian orang menjadi malas dan terlalu bergantung padanya. Ada yang membuatku sangat merindukan masa itu.

Aku sampai lupa bagaimana caranya dulu aku bisa janjian bertemu dengan teman di suatu tempat dengan tepat waktu tanpa realtime communication. Karena sekarang kita bisa tau lewat pesan instan sampai dimana posisi teman janjian kita sementara kita masih asik berdandan. Siang itu aku janjian bertemu dengan temanku, kami berkomunikasi lewat layanan bbm. Kami sepakat akan bertemu di pintu gerbang kampus pukul 13.00. Oke, singkat cerita aku sampai di lokasi dengan tepat waktu. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 tetapi temanku itu belum juga keliatan batang hidungnya, mungkin karena temanku itu pesek kali ya? Wkwkwk. Peaceee... 20 menit berlalu tetapi temanku belum muncul juga. Mungkin salahku ya tidak membawa ponsel karena tadi sedang aku charge sehingga aku tidak bisa mengkonfirmasi lagi kehadirannya. Karena aku merasa dia tidak mungkin datang, lalu aku pulang. Sampainya di rumah aku bbm dia. //Aku tadi sudah di gerbang kampus jam 13.00 tetapi kamu tidak ada jadi aku pulang, maaf ya// Lalu dia pun membalas. //Lhoh! Lha aku tuh nunggu bbm dari kamu kok!//. Sekarang aku tau penyebab aku menunggu 20 menit yang krik krik krik tadi. //Oh gitu, ya maaf ya.// jawabku. Padahal dalam hatiku: Bukankah kita udah sepakat bertemu disana jam 13.00. Apa iya aku harus Eh ini aku udah sampai di gerbang kampus, kamu kesini ya. Em... mungkin itu yang kamu harapkan ya. So, itulah kejadian yang membuatku sadar interaksi sosial sudah tidak seperti dulu lagi.

Kemudian sudah beberapa minggu ini aku sign off dari instan messaging seperti bbm, whatsapp, facebook, dan sebagainya. Mencoba menemukan rasa yang ku rindukan. Tapi apa yang aku dapat? Batrey ponselku jadi awet lho... Mungkin orang yang menghubungiku per harinya dapat dihitung dengan jari. Sesekali teman-teman bertanya, Kamu kok susah dihubungi? Bbm juga cuman centang aja! Kadang aku sampai berpikir apa sudah tidak ada temen-temenku yang menggunakan layanan sms ya? Aku juga hanya membuka jejaring sosial lewat komputer saja, yang menjadikanku tidak 24jam online. Sebenarnya aku ingin melepas akun-akun itu. Aku rasa hidupku juga akan sedikit damai. Akan tetapi jaman memang sudah berubah dan tak akan mudah melakukan itu. Aku tak mungkin tidak membuka facebook lagi, karena informasi kuliah, job, grup dan hal-hal sejenisnya semuanya berada disitu. Teknologi ini memang tidak mudah untuk disikapi.

Lalu mengapa lebih enakan dulu hal-hal yang aku bahas di atas? Aku rasa bbm itu sama dengan jamanku memainkan mig33. Ada profil picture//dp, ada status message//pm, dan chat seperti umumnya. Kemudian whatsapp yang aku rasa sama dengan jaman mXit dulu, dimana kita memakai nomer telepon sebagai id akun kita. Lalu facebook itu aku anggap dulu sebagai friendster yang sama-sama jejaring sosial yang populer pada jamannya. Mengapa aku anggap lebih enak? Karena kita harus log in dan stay in app agar kita terlihat online. Berbeda dengan sekarang yang bahkan tanpa membuka aplikasi pun kita bisa menerima pesan dan orang-orang berasumsi bahwa kita 24jam selalu memegang hape. Untuk sms yang tarifnya 350 rupiah dan tanpa bonus, aku rasa ketika jaman itu tidak ada sms yang tidak penting. Berbeda dengan sekarang ini yang kita tidak akan merasa rugi hanya menulis huruf Y di pesan yang kita kirim. Juga tentang layanan internet yang hanya kita dapatkan di warnet. Jadi kita benar-benar menyiapkan niat untuk membuka internet. Kita benar-benar menyediakan waktu untuk menyempatkan komunikasi ini, kita benar-benar fokus. Berbeda dengan sekarang ini yang aku lihat kurangnya keseriusan karena internet dapat kita dapatkan darimana saja, kapan saja, dan dengan biaya berapa saja. Itulah alasanku mengapa aku lebih suka jaman itu. Namun sekali lagi kemajuan teknologi tidak dapat diingkari, namun kita bisa kok menyikapi ;)
Reactions:

2 comments:

  1. Yes indeed :))
    Kangennya menohok ya, lebih seruan janjian jmn dulu yang dari telpon rumah ke rumah buat ketemuan, asikan jaman aplikasi chatting blm semeriah skrg :')
    Kadang membagi hidup dengan media sosial justru bikin hidup kita jadi gak tenang krna harus up to date aja biar gak kuper, tuntutan gak penting penting amat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar banget met. Dulu, situ atau saya lewat telepon rumah. Bill, Met, ntar kesitu ya, meh ngopi spongebob. Ticktock... I'm here...
      Akan sulit menemukan yang seperti itu dijaman ini ya.

      Delete