Saturday, January 11, 2014

26 Oktober 2013. Hobi jalan-jalan yang membawaku ingin mengenal alam, dan bulan ini ingin sesekali trip ke tempat yang tinggi, melihat pemandangan dari atas. Dulu sih katanya mau di ajak kang Bayu naik gunung, tapi sampai sekarang belum ngabarin lagi. Kemudian ku putuskan untuk melakukan pendakian gunung ungaran. Ya yang deket-deket dulu, deket rumah maksudnya. Hehe. Awalnya noh saat kuliah BK itu, Septy yang bersemangat untuk naik gunung mulai tertarik dengan bahasanku bersama Bowo dan Fera. Namun si Septy yang sibuk itu mengusulkan pendakian di akhir semester nanti. Tapi aku bersama Bowo dan Fera saat itu tidak sabar dan memutuskan untuk melakukan pendakian dua minggu lagi. Oke semua sudah setuju, lalu anggota pun berdatangan. Fika yang saat itu di kosan aku paksa untuk ikut akhirnya mau juga. Lalu si Tari pun juga ingin ikutan. Oke, tim sudah terbentuk, we have been ready! :)

Selamat pagi wahai pejuang mimpi, untuk lebih pagi dari biasanya, untuk lebih cerah dari kelihatannya, ijinkan aku menembus awan menuju titik temu cakrawala antara siang dan malam, untuk terbang bersama kawan-kawan.

“Setiap kamu punya mimpi, keinginan atau cita-cita kamu taruh di depan sini di depan kening kamu, jangan menempel, biarkan dia menggantung, mengambang 5 kilometer di depan kening kamu”

Ya, itu plesetan dari salah satu film yang sedang populer tahun ini yang critanya tentang naik gunung juga. Sebelumnya kita siap-siap berangkat setelah solat duhur itu, kemudian kira-kira sampai di pos pendakian mawar pukul 4 sore. Bersama mereka, wajah-wajah ceria yang selalu menemaniku. Bowo yang cuek, Fera dan Fitri bersama semangat 45nya, Fika dengan suara lantangnya, Tari lengkap tas gedenya, kemudian Agus, yang akan memandu kita menggapai puncak. Lalu selepas istirahat sejenak setelah sholat ashar itu, kami berdoa untuk meminta keselamatan sampai masanya kami kembali berutinitas esok hari. Pukul setengah lima-an sore, perjalanan dimulai...
Part I, the rain has fallen
Tepuk fika... Prok prok prok... WOI!!! Bernyanyi, bercanda, tingkah dan ulah kita menghiasi perjalanan menuju puncak gunung ungaran. Tiap beberapa langkah kami tak lupa mengistirahatkan diri, memang gampang capeknya sih karena ini pengalaman mendaki gunung pertama kami. Sempat kami salah mengambil jalan nih, duh gimana sih mas Agus milih jalannya. Hari sudah mulai gelap, senter-senter mungil yang membantu melanjutkan perjalanan kami bersama kabut yang semakin menebal. Langkah kaki yang mulai melambat, nafas yang semakin terengah, dan tubuh yang mulai lelah, sampai akhirnya kita sampai pos pendakian perumasan pukul 7 malam. Kami istirahat di sebuah mushola kecil dan menyampaikan syukur kami karena bisa menyelesaikan perjalanan awal kami. Hari semakin malam, namun ketika kami akan melanjutkan perjalanan terakhir ke puncak, hujan menunda niat kami. Akhirnya pukul 9 malam hujan telah reda, kami pun melanjutkan perjalanan kami.

PartII, I’m worried about them
Hanya saja baru beberapa langkah kami berjalan, kondisi tubuh Fika melemah. Sebentar zid... Tunggu bentar, dia berusaha mengambil nafas, tapi kekuatannya semakin hilang bersama angin malam yang berganti hujan. Fika pingsan, aku bingung harus berbuat apa. Mana berat banget pula badannya. Akhirnya setelah dia siuman, kami kembali dulu ke pos pendakian perumasan. Kami tunda dulu perjalanannya. Sembari istirahat kami mengisi perut sampai kami memutuskan untuk membangun tenda dulu disana sebelum melakukan pendakian sampai puncak. Hujan pun mendahului sebelum kami berhasil membangun tenda kami. Tidak mungkin kita berkemah ditengah hujan yang mengguyur cukup deras ini. Semua sudah basah kuyup, kedinginan, dan udara semakin meremas tulang. Perjalanan sudah tidak mungkin dilanjutkan sekarang, tenda kami juga terlalu basah. Pukul 11an akhirnya kami putuskan untuk menyewa penginapan untuk malam ini.

Part IV, warm is gone, go home
Kakiku dingin banget zid, kata Tari. Memang waktu itu aku sudah kehabisan ide, mau aku kasih apalagi nih? Kami sudah tidak punya jaket kering lagi. Bruuuk, kata Fika dia hanya tertidur. Tapi aneh rasanya jika cara tidurnya seperti itu. Beberapa detik itu Tari menjadi kehiangan kesadaran, kali ini aku agak lega pingsannya bukan di jalanan. Tetapi aku tetep bingung musti ngapain. Keadaan kami sangat buruk waktu itu. Aku hanya berdoa tidak terjadi apa-apa pada mereka. Semalaman aku susah untuk memjamkan mata. Bowo dan Agus disebelahku walaupun tidak mengeluh aku tau mereka juga kedinginan. Kemudian si Fera dan Fitri yang memang aku rasa kuat dan aku rasa tak ada masalah soal kaya gini. Tertidur sekejab sebelum dibangunkan Fika untuk sholat subuh. Lalu matahari mulai mengintip, sinarnya membuat hangat ditengah udara yang menusuk-nusuk tulang. Tari mulai bangkit, aku rasa dia sudah baikan. Beberapa jam setelah sarapan dan menikmati segarnya udara pagi pegunungan, kami putuskan untuk kembali ke dataran. Tari dan Fika kapok, katanya mereka gak akan mau mendaki gunung lagi. Kalau Bowo, Agus, Fera dan Fitri tetap akan menjadi pendaki. Dan mungkin memang belum saatnya untuk aku menggapai puncak gunung belakang rumah ini, tapi aku janji suatu saat nanti aku akan sampai disana ;)
Reactions:

2 comments:

  1. gak bisa tidur tu kemaren...
    luntang lantung di luar kayak orang ilang...
    jam 3 ru bisa tidur....
    bangun-bangun malah kedinginan huh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha kan aku uda bilang bawa selimut.. :p

      Delete